
Sidoarjo — Wisata Bahari Tlocor yang terletak di Dusun Tlocor Desa Kedungpandan , Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, terus berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Dengan pesona hutan mangrove, jalur perahu, dan keindahan alam khas pesisir, kawasan ini mulai dilirik sebagai alternatif wisata alam keluarga.
Namun, di tengah perkembangan tersebut, tantangan dalam pengelolaan layanan publik masih menjadi tugas besar. Infrastruktur pendukung seperti akses jalan, area parkir, dan sistem layanan informasi masih dinilai belum maksimal.
“Saya melihat potensi besar di Wisata Bahari Tlocor ini, namun dari sisi pelayanan publik masih perlu ada inovasi, terutama berbasis digital”.
Melihat kondisi ini, reformasi administrasi publik berbasis digital menjadi kebutuhan yang mendesak. Pemerintah daerah perlu mengintegrasikan sistem layanan perizinan, sistem informasi wisata, hingga transaksi tiket berbasis aplikasi.
“Digitalisasi ini penting, supaya semua layanan menjadi lebih cepat, efisien, dan transparan. Tidak hanya menguntungkan wisatawan, tapi juga pelaku usaha di sekitar Tlocor”.
Selain itu, kolaborasi lintas dinas sangat dibutuhkan. Dinas Perhubungan, misalnya, harus mempercepat perbaikan akses jalan, sementara Dinas Lingkungan Hidup fokus pada konservasi mangrove yang menjadi daya tarik utama Tlocor.
Pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan wisata juga dianggap krusial. “Menurut saya, keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan wisata sangat penting dan ikut aktif mengelola misalnya melalui koperasi wisata, sehingga manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat“.
Dengan sistem administrasi publik yang modern, responsif, dan kolaboratif, Wisata Bahari Tlocor diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata favorit, tetapi juga menjadi contoh sukses pengelolaan wisata berbasis masyarakat dan teknologi di Jawa Timur.









































